Langsung ke konten utama

PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN

Psikologi komunikator dan psikologi pesan adalah dua konsep yang terkait dalam ilmu komunikasi.




 Psikologi komunikator mengacu pada perilaku komunikator yang berpengaruh dalam proses komunikasi, seperti kredibilitas, atraksi, dan kekuatan. Kredibilitas komunikator berarti persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator, seperti keahlian dan dapat dipercaya. Atraksi komunikator berarti daya tarik yang bersumber dari kondisi fisik, gaya bicara, serta latar belakang. Kekuatan komunikator berarti kemampuan komunikator untuk mempengaruhi perubahan sikap pendengar.


 Sementara itu, psikologi pesan mengacu pada pesan yang disampaikan oleh komunikator, seperti pesan verbal dan nonverbal. Pesan verbal adalah pesan yang digunakan dalam komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai media. Pesan nonverbal adalah pesan yang disampaikan melalui media lain, seperti ekspresi wajah, gestur, dan postur tubuh. Kedua konsep ini saling terkait dan berpengaruh dalam proses komunikasi, sehingga komunikator harus memahami baik psikologi komunikator dan psikologi pesan untuk berkomunikasi efektif.


 Komunikator yang baik harus memiliki kredibilitas, atraksi, dan kekuatan. Kredibilitas berarti komunikator harus memiliki keahlian dan dapat dipercaya. Atraksi berarti komunikator harus memiliki daya tarik yang bersumber dari kondisi fisik, gaya bicara, serta latar belakang. Kekuatan berarti komunikator harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perubahan sikap pendengar.


 Pesan yang disampaikan oleh komunikator harus disusun dengan rapi perkataannya agar dapat dipahami dengan mudah oleh komunikan. Komunikator juga harus menyesuaikan media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesannya. Seorang komunikator juga harus bertanggung jawab dengan apa yang ia sampaikan.

 Dalam komunikasi, tujuan dari komunikasi akan tercapai bila makna pesan yang disampaikan komunikator sama dengan makna yang diterima komunikan. Maka untuk mencapai tujuan itu, pesan yang disampaikan biasanya diungkapkan melalui dua bentuk, yaitu pesan verbal dan nonverbal. Pesan verbal adalah pesan yang digunakan dalam komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai media. Pesan nonverbal adalah pesan yang disampaikan melalui media lain, seperti ekspresi wajah, gestur, dan postur tubuh. 

 Dalam komunikasi, karakteristik komunikator disebut oleh Aristoteles dengan ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik. Istilah lain dari ethos ini adalah credibility yang terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan dapat dipercaya. Unsur lainnya adalah atraksi komunikator dan kekuasaan.




Syarat Menjadi Komunikator Yang Baik

    Untuk menjadi seorang komunikator yang baik, menurut Harold. D Lasswel (Wiriyanto, 2008) terdapat beberapa hal yang perlu dipahami yaitu :

 A. komunikator yang baik perlu menyusun dengan teratur isi pesan yang ingin disampaikan, agar pesan tersebut mudah dipahami oleh pihak penerima. 

B. Komunikator yang baik juga harus mengetahui mana media yang paling tepat untuk mengirim pesan kepada penerima dan harus tahu bagaimana cara mengantisipasi gangguan yang akan muncul pada proses pengiriman pesan.

 C. Komunikator yang baik akan bertanggung jawab memberikan tanggapan terhadap umpan balik (feedback) yang disampaikan oleh pihak penerima (reciver).

DIMENSI ETOS

dimensi etos terdiri dari :

 1. kredibilitas Kredibilitas memiliki persepsi komunikasi mengenai sifat-sifat komunikator, dalam defenisi ini ada dua hal yang terlampir:

 (1) kredibilitas adalah persepsi komunikasi jadi tidak dapat dipisahkan dalam diri komunikator.

 (2) kredibilitas bersamaan dengan sifat-sifat komunikator yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen-komponen kredibilitas.

 2. atraktif/atraksi Atraksi menyebabkan komunikator menarik, dan karena menarik ia memiliki ajakan. Tetapi kita juga tertarik kepada seseorang karena adanya beberapa kesamaan antara di adegan kita. Dalam tingkat yang berlebihan kita dapat mengatakan hubungan ini cukup kuat.

 Kekuasaan 

kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan. Seperti kredibilitas dan atraksi, ketundukan timbul dari intraksi antara komunikator dan komunikasi. Kerkuasaan menyebabkan seseorang komunikator dapat”memaksakan” kehendaknya kepada orang lain, karena ia memiliki sumberdaya yang sangat penting (critical reseurces). Berdasarkan sumberdaya yang dimilikinya, French dan Raven menyebutkan jenis-jenis kekuasaan. Klasifikasi ini kemudian dimodifikasikan Raven (1974) dan menghasilkan lima jenis kekuasaan:

 1) Kekuasaan Koesif (coersive power). Kekuasan koesif menunjukkan kemampuan komunikator untuk mendatang- kan dan jarang atau memberikan hukuman pada komunikasi. Imbalan dan hukuman itu dapat bersifat individu atau impesonal.

 2) Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan ini berasal dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan, atau kemampuan yang dimiliki komunikator.

 3) Kekuasaan informasional (informational power) kekuasaan ini berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh komunikator. 

4) Kekuasaan rujukan (refrent power). Disini komunikasi menjadikan komunikator layar belakang rujukan untuk menilai dirinya. 

5) Kekuasaan legal (Legitimate power). Kekuasaan ini berasal dari kumpulan peraturan atau norma yang menyababkan komunikator berwenang untuk melakukan suatu perbuatan.



Dalam psikologi komunikator “siapa” itu lebih penting dari “apa”, maksudnya terkadang orang menilai seseorang melihat dari penampilannya terlebih dahulu barulah kemudian mendengarkan apa yang disampaikan oleh seorang komunikator. Komunikator adalah orang yang sedang berbicara atau orang yang sedang menyampaikan suatu pesan kepada orang lain, sedangkan komunikan ialah orang yang menerima pesan dari seorang komunikator. Seorang komunikator dengan seorang komunikan dapat bertukar peran ketika seorang komunikator telah selesai menyampaikan pesan yang ia sampikan kepada komunikan maka disitulah seorang komunikan dapat menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Seorang komunikator yang baik harus dapat memposisikan tempat dimana ia berkata, dan menyusun dengan rapi perkataannya agar pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator dapat dipahami dengan mudah oleh komunikan. Komunikator juga harus menyesuaikan media yang akan digunakan untuk menyapaikan pesannya. Seorang komunikator juga harus bertanggung jawab dengan apa yang ia sampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

 Dr. Fitri Yanti, M. (2022). Psikologi Komunikasi. Agree Media Publishing.

 Dr. H. M. Husni Ritonga (2019). psikologi komunikasi. perdana publishing

 Prof. Dr. H.A.Rusdiana, M. (2021). Etika Komunikasi Organisasi. Bandung: UIN SGD Bandung

SUMBER

https://ummaspul.e-journal.id/JKM/article/download/3782/1350

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DI TINJAU DARI SELF ESTEEM DAN GENDER

PERILAKU BULLIYING PADA REMAJA TELAH MENJADI PERHATIAN UTAMA DALAM STUDI PSIKOLOGIS. Perilaku bullying pada remaja di tinjau dari self esteem dan gender Masa remaja merupakan periode baru didalam kehidupan seseorang, yang ditandai denga n perubahan-perubahan didalam diri individu baik perubahan secara fisik, kognitif, sosial dan psikologis. Tidak sedikit remaja yang mengalami ketidakmampuan dalam menguasai perubahan baik secara fisik dan psikologis yang akhirnya berdampak pada gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga remaja akan mudah menyimpang dari aturan-aturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Ketegangan-ketegangan yang dialami kadang-kadang tidak dapat terselesaikan dengan baik, yang kemudian menjadi sebuah konflik yang berkepanjangan. Ketidakmampuan remaja didalam mengatasi konflik-konflik akan menyebabkan perasaan gagal yang mengarah kepada bentuk frustrasi. Bentuk reaksi yang terjadi akibat frustrasi yang dialami dapat menjadi bentuk kekerasan untuk menyakiti diri dan orang l...